Misteri Pengorbanan Heroik

analisis genetik di balik aksi nekat demi orang banyak

Misteri Pengorbanan Heroik
I

Bayangkan skenario ini sejenak. Kita sedang berdiri di peron stasiun kereta yang sangat ramai. Tiba-tiba, ada orang asing—entah siapa—terpeleset dan jatuh ke rel. Suara gemuruh kereta dari kejauhan makin terdengar memekakkan telinga. Sebagian besar orang di peron akan menjerit ngeri atau membeku karena panik. Tapi, sering kali selalu ada satu orang yang tanpa pikir panjang melompat ke bawah sana. Mereka mempertaruhkan nyawa demi seseorang yang nama belakangnya saja mereka tidak tahu.

Pertanyaannya, kenapa? Pernahkah kita memikirkan betapa tidak logisnya pengorbanan heroik semacam ini? Secara biologi dasar, insting pertama setiap makhluk hidup adalah menyelamatkan diri sendiri. Itu adalah hukum alam mutlak. Tapi nyatanya, sejarah peradaban kita dipenuhi oleh kisah manusia yang rela hancur demi keselamatan orang banyak. Mulai dari tentara yang melompat ke atas granat demi peletonnya, hingga relawan yang menerobos gedung runtuh. Mari kita bedah misteri di balik tindakan nekat ini bersama-sama.

II

Kalau kita memutar memori kembali ke pelajaran biologi di sekolah, teman-teman pasti ingat dengan teori evolusi Charles Darwin. Inti sari dari teori tersebut sebenarnya terkesan cukup egois: survival of the fittest. Siapa yang paling kuat beradaptasi, dia yang bertahan hidup dan berhak mewariskan genetikanya ke generasi berikutnya.

Nah, dari kacamata ini, aksi heroik adalah sebuah paradoks raksasa yang sangat membingungkan. Darwin sendiri di masa lalunya sempat pusing tujuh keliling memikirkan hal ini. Kenapa lebah pekerja rela mati menyengat demi melindungi sarangnya? Jika seorang pahlawan manusia mati sebelum sempat memiliki keturunan, bukankah gen pahlawan itu otomatis akan musnah dari muka bumi?

Darwin akhirnya mencetuskan sebuah ide awal yang kini kita kenal dalam ilmu biologi evolusioner sebagai kin selection atau seleksi kerabat. Teori ini menyimpulkan bahwa kita rela berkorban nyawa asalkan itu demi individu yang punya kemiripan DNA dengan kita. Secara matematis genetik, menyelamatkan tiga saudara kandung berarti menyelamatkan lebih banyak porsi gen kita daripada kita hidup sendirian. Dari sudut pandang evolusi, ini sangat masuk akal.

III

Tapi tunggu dulu. Penjelasan seleksi kerabat tadi punya satu lubang misteri yang sangat besar. Teori itu memang sangat presisi untuk menjelaskan mengapa seorang ibu berani menerjang api demi bayinya. Lalu, bagaimana dengan pahlawan di stasiun kereta tadi?

Bagaimana dengan para tenaga medis yang mempertaruhkan nyawa merawat pasien infeksi mematikan, yang jelas-jelas tidak punya hubungan darah sepeser pun dengan mereka? Apakah insting kelangsungan hidup mereka rusak? Ataukah ada semacam glitch atau kerusakan sistem di otak mereka yang membuat rasa takut itu tiba-tiba menguap begitu saja?

Para ilmuwan psikologi, saraf, dan genetika jelas tidak mau menyerah begitu saja pada kebuntuan ini. Mereka mulai menggali lebih dalam, membedah struktur DNA dan melakukan pemindaian otak pada para "altruis ekstrem" ini. Dan apa yang mereka temukan di dalam sana, pelan-pelan memaksa kita untuk melihat ulang makna sejati dari menjadi manusia.

IV

Jawaban dari misteri ini ternyata tersembunyi dengan rapi di dalam cetak biru genetik kita, dibantu oleh cara kerja sirkuit otak yang luar biasa unik. Para ilmuwan menemukan bahwa pengorbanan heroik tingkat tinggi sangat erat kaitannya dengan variasi genetik pada reseptor oksitosin di tubuh kita, khususnya gen OXTR.

Oksitosin selama ini sering dijuluki "hormon cinta", namun di ranah sains murni, fungsinya jauh lebih kompleks dan brutal. Gen OXTR inilah yang mengatur seberapa kuat dan luas kita bisa merasakan empati sosial. Pada individu yang secara genetik memiliki sensitivitas tinggi pada gen ini, batas psikologis antara "aku" dan "kamu" menjadi sangat kabur di saat krisis terjadi.

Bukan cuma soal gen, penelitian menggunakan alat pemindai otak fMRI menunjukkan hal yang sangat memukau pada bagian otak bernama amygdala, yakni pusat alarm rasa takut manusia. Pada manusia biasa, melihat bahaya langsung memicu amygdala membunyikan alarm "lari selamatkan dirimu!". Tapi pada para pahlawan ini, amygdala mereka terbukti bereaksi lebih sensitif dan lebih besar terhadap ketakutan orang lain daripada ancaman pada diri mereka sendiri.

Secara genetik dan neurologis, ketika mereka melihat orang asing jatuh di rel kereta, otak mereka tidak memprosesnya sebagai "ada orang asing sedang dalam bahaya". Sirkuit saraf mereka secara otomatis menerjemahkannya sebagai "bagian dari diriku sedang dalam bahaya". Aksi nekat yang mereka lakukan bukan karena mereka tidak punya rasa takut. Sama sekali bukan. Itu terjadi karena empati mereka secara biologis cukup kuat untuk membajak dan mematikan sistem ketakutan tersebut.

V

Ini adalah sebuah fakta sains yang menurut saya sangat puitis. Pengorbanan demi orang lain bukanlah sebuah kecacatan logika. Tindakan nekat demi orang banyak bukanlah sebuah kesalahan atau anomali evolusi.

Justru sebaliknya, kemampuan kita untuk mengorbankan diri demi orang yang sama sekali tidak kita kenal adalah puncak tertinggi dari evolusi sosial manusia. Seiring berjalannya waktu, spesies kita berhasil meretas dan menipu kode genetik egois kita sendiri. Kita memperluas definisi "keluarga" dari yang tadinya hanya sebatas hubungan darah, menjadi mencakup seluruh umat manusia.

Tentu saja, tidak semua dari kita ditakdirkan atau dituntut untuk melompat ke rel kereta api besok pagi. Dan itu sama sekali tidak apa-apa. Tapi, mengetahui bahwa dorongan untuk saling melindungi ini tertanam begitu kuat dalam untaian DNA kita, rasanya memberi sebuah kelegaan tersendiri. Di saat dunia terasa semakin egois, individualis, dan dingin, sains hadir untuk mengingatkan kita pada satu kebenaran mutlak. Jauh di dalam sel-sel tubuh kita yang paling kecil sekalipun, kita memang didesain untuk saling peduli.